AMNESIA RAS MANUSIA PLASTIK

 PENGANTAR

Sewaktu terlahir dan menjadi anak manusia tidak seorang pun pernah mempersoalkan kesempurnaan tubuhnya. Yang mungkin pasti diperbuat pada saat kelahiran itu ialah mengungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang menyelenggarakan semuanya itu. Cacian tentang atau nistaan untuk diri yang terlahir dengan segala kekurangan dipastikan belum ada. Akan tetapi dalam perkembangan waktu, ketika usianya bertambah, intelek berkembang, selera hidup tinggi juga karena ia sendiri telah sanggup memberikan keputusan maka manusia itu mulai memberikan penilaian terhadap dirinya, tubuhnya, sesama, dunia dan Tuhan. Dia memperbandingkan banyak hal dalam dirinya. Ada perbandingan yang menghantar pada kepuasan tetapi ada juga yang mengecewakan. Dan pada umumnya kekecewaan-kekecewaan tersebut menuntut manusia membuat sebuah perubahan.

Salah satu kekecewaan yang terjadi selama ini ialah kecewa terhadap tubuh. Ada orang yang tidak puas dengan tubuhnya yang tidak secantik dia atau tidak seindah orang lain yang dilihatnya dalam interaksi sehari-hari. Manusia itu bosan dan muak dengan dirinya yang jelek dan hendak menciptakan tubuh baru yang sanggup memuaskan dirinya. Konsekuensinya berujung pada trend manusia plastik yang sekarang ini sedang marak. Mengapa disebut manusia plastik? Karena hampir seluruh tubuh barunya adalah plastik. Hidung mereka yang baru adalah plastik, telinga mereka juga plastik, mungkin juga naluri mereka sudah jadi plastik. Teknologi plastik menciptakan manusia plastik sebagai satu ras manusia baru. Ironisnya manusia-manusia plastik nekad jadi plastik dengan alasan estetika tubuh; kecantikan tubuh lahiriah. Mereka rela membuang tubuh asali yang terlahir dahulu demi kecantikan. Mereka menyangkali forma dasar yang telah dirancangkan atas diri mereka.

Fenomena ini sudah membudaya karena manusia terpanggil dan merasa lebih nyaman menjadi manusia plastik. Manusia terlena dengan operasi atau bedah plastik sampai melupakan keunikan dan keaslian diri. Hari-hari yang mereka hidupi adalah masa-masa kamuflase, sangkal diri juga lupa diri demi penampilan yang anggun bagi diri sendiri dan orang lain. 

Pada beranda Yahoo pernah terpajang sebuah berita. Bahwa di Korea, hampir setiap orang tua menghadiahkan bedah plastik bagi putri-putri mereka dengan intensi sebagai suatu penghargaan terhadap mereka karena berhasil dalam studi dan yang tengah beranjak dewasa. Dan bagi masyarakat Korea hal ini adalah sebuah trend. Karena itu hampir pasti semua gadis Korea mesti bedah plastik. Jika tidak bukan tidak mungkin mereka yang tidak ber-bedah plastik mendapatkan cibiran dari kawan-kawannya. Maksud bedah plastik itu hanya demi semua beda penampilan; gadis-gadis yang tempo dulu jelek kini terlihat kelihatan anggun dan mempesona.[1] Akan tetapi dari fenomena ini kita patut bertanya. Mengapa mereka harus mengubah keaslian tubuh? Apakah yang asli itu jelek? Kalau mereka menyebut diri jelek, alasan seperti cukup tepat seperti apa yang menunjukkan kejelekan tersebut? Apakah patut mereka mendefinisikan kejelekan untuk tubuh yang telah diciptakan itu? Bukankah semua manusia baik adanya? Mengapa manusia cenderung melihat dirinya jelek dan sulit sekali menemukan yang bail? Lalu apakah dengan rekonstruksi tubuh yang jelek menjadi baik telah menyelesaikan problem jelek? Dan di akhir semua upaya rekonstruksi itu, apakah kehadiran manusia plastik seperti ini tidak membawa malapetaka bagi dunia ini?

 

(OPERASI /BEDAH)  PLASTIK?

Istilah bedah plastik berkembang dalam dunia kedokteran. Dahulu para dokter memilih pembedahan ini ketika bertemu dengan pasien yang menghendaki kembalinya tangan, hidung, telinga, kulit dan organ tubuh penting lain yang ‘hilang’. Dokter dan para pasien memiliki tekad yang sama dalam pembedahan ini yakni mencapai kehidupan normal tanpa cacat pada tubuh. Umumnya para pasien itu adalah kelompok angkatan bersenjata yang kehilangan telinga akibat perang atau sekelompok orang lain lagi yang karena alasan kecelakaan menderita luka bakar pada kulit atau kehilangan daun telinga. Mereka terpaksa ber-bedah plastik karena keadaan mendesak mereka untuk melakukan pembedahan.[2] Dan dalam tataran seperti ini kehadiran operasi plastik dinilai sebagai suatu anugerah yang amat bernilai bagi peradaban manusia. Namun dalam perkembangannya praktik ini disalahfungsikan manusia. Awalnya operasi plastik yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang dengan kondisi seperti yang dijelaskan tadi berubah fungsi menjadi perangkat merubah rupa manusia walau terlihat sehat tanpa ‘cacat’. Rupanya kelompok manusia plastik ini secara sepihak mengatai diri mereka jelek lalu menggunakan bedah plastik untuk memugar seluruh cacat (jelek) tersebut.

Sejauh ini perhatian manusia pada sektor kecantikan atas prakarsa operasi plastik berkembang sangat pesat. Dan kaum wanita tercatat sebagai peminat tertinggi. Mereka bersedia membuang puluhan juta rupiah hanya untuk merias tubuh agar tetap kencang dan mempesona ketika ditatap para pria. Wikipedia: Free Encyclopedi memberitakan bahwa wanita yang ‘doyan’ rias dengan trend ini biasanya menghabiskan dana lebih dari $ 83,000 setiap kali merias diri.[3] Banyak di antara para wanita itu adalah gadis remaja dan ‘gadis jompo’. Bahkan kelompok kedua ini kelihatan lebih bersemangat dari mereka yang masih remaja.

Di tanah air kita khususnya NTT, minat untuk ber-bedah plastik belum cukup ramai. Di Indonesia para peminatnya masih beredar di sekitar kalangan konglomerat, artis, politisi atau manager Bank seperti Inong Malinda Dee.[4] Namun tidak untuk negara-negara seperti Amerika, Inggris, Jerman, China, India dan Korea Selatan. Di sana bedah plastik telah menjadi bisnis besar-besaran dan diminati oleh hampir setiap kaum Hawa.[5] Karena itu tidak mengherankan jika hampir di setiap sudut kota dalam negara-negara tersebut ditemukan salon-salon kecantikan yang menawarkan jasa bedah plastik. Dan dunia kedokteran tanpa merasa terganggu melegalkan berdirinya salon-salon tersebut. Mana mungkin dilarang jika semuanya itu mendatangkan keuntungan. Dokter-dokter semakin antusias. Mungkin akan sangat mengidamkan jika setiap hari hanya pasien bedah plastik dengan tujuan kecantikan mengantre di pelataran salon tersebut.

Melihat pergeseran ini, apakah masih tepat kita mempertahankan eksistensi bedah plastik? Pada dasarnya jika praktik hal ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin bedah plastik yang menciptakan manusia plastik akan menjadi wabah bagi dunia. Perlahan-lahan ras manusia yang asli akan dipertanyakan eksistensinya jika yang plastik terlegitimasi. Persepsi manusia tentang dirinya, tentang sesama dan ahkirnya tentang Penciptanya akan semakin runyam. Bisa jadi manusia berani membuat penolakan untuk diri sendiri yang jelek dan mudah katakan dirinya jelek dari pada bersyukur atas keunikan tubuhnya. Manusia hanya akan memaknai hidupnya sebagai show penampilan untuk sesama. Dan bisa jadi semuanya itu merucut pada protes untuk Tuhan yang gagal menghadiahkan tubuh yang indah kepada setiap manusia. Akhirnya manusia akan lebih mencintai bedah plastik dari pada Allah.

Plastik dalam term bedah plastik tadi tidak diartikan seperti sebuah zat yang dalam sebuah proses produksi akan menghasilkan piring plastik atau ember atau gayung dan segala benda plastik lainnya yang dipakai dalam kebutuhan rumah tangga kita. Term ini disadur dari kosa kata Yunani πλαστική (τέχνη), plastikē (tekhnē) yang dapat dipahami sebagai suatu cara merekonstruksi, merenovasi bukan dengan plastik tetapi dengan bahan dari tubuh sendiri atau implant.[6] Ahli bedah yang pertama mengembangkan teknik pembedahan ini ialah Sir Harold Gillies. Dia terkenal berkat pembedahan yang dilakukannya pada tahun 1917 atas diri Walter Leo; seorang tentara Inggris korban perang. Gillies membedah kulit tubuh Leo yang rusak lalu diganti dengan kulit lain yang lebih sehat. Dari saat itulah bedah plastik dikembangkan. Akan tetapi jauh sebelum Gillies, ada seorang bernama Sushruta telah berkutat dengan ilmu bedah ini pada seputaran masa 800 SM. Dikatakan bahwa ia adalah orang pertama yang mencoba membedah dengan teknik ini. Atas prakarsa tersebut Sushruta digelari Bapak Ilmu Bedah. Sushruta mengabadikan ilmu ini kepada kita sampai dengan saat ini dengan maksud agar mereka yang bernasib seperti Walter Leo sanggup mendapatkan kembali kondisi tubuh mereka seperti sedia kala.[7] Itulah sebabnya mengapa di zaman Mesir dan Romawi kuno perihal bedah plastik sudah tidak menjadi barang aneh yang terus saja dikembangkan sampai saat ini dalam teknik dan cara yang mutakhir. [8]

 AMNESIA RAS MANUSIA PLASTIK

Berawal dari Tudingan Buat Tubuh yang Jelek

Perbincangan tentang yang jelek (baca: malum) pasti berujung pada diskusi yang alot dan panjang. Dan dalam iman kita percaya bahwa semua manusia sendiri lahir dengan membawa dosa asal ini. Manusia hidup dan selama hidup ia hamil malum. Akan tetapi dalam pada itu eksistensi bonum terlegitimasi. Dengan kata lain bonum adalah ekstrem lain yang mesti dimiliki manusia yang sedang hamil malum. Itu berarti bonum lebih diterima keberadaannya dari pada malum.

Diri yang jelek melahirkan penolakan dan bertepi pada pilihan terhadap diri yang tidak jelek (baca: cantik = mempesona). Sehingga tidak mungkin dipungkiri jika pilihan untuk menjadi cantik dan putusan ber-bedah plastik mesti ditempuh. Yahoo Indonesia pernah mengabarkan sebuah berita. Adalah seorang pembawa acara yang juga seorang artis mau mengoperasi wajahnya agar mirip dengan seorang artis lain yang lebih cantik dan terkenal darinya. Dia amat yakin bahwa usaha seperti ini akan membawanya pada tingkat kesuksesan sama seperti artis modelnya itu.[9] Dia nekat membuang wajah khasnya demi uang dan popularitas. Inikah arti bonum yang dimaksud?  

Manusia mesti sadar diri dan mesti menjunjung tinggi keunikan dirinya. Konsep tentang malum dan bonum yang berpuncak pada bonum seturut contoh di atas tidak dimaksudkan oleh bonum itu sendiri. Keberpihakan pada tindakan seperti ini pun adalah sebuah malum yang mesti diwaspadai. Mengapa? Pertama; karena fenomena ini menjadi tanda bahwa manusia plastik telah dan sedang keliru memahami dirinya. Dahulu Plato sudah berbuat dosa ini dengan melihat tubuh manusia sebagai sesuatu yang jelek; yang tidak memberikan bonum. Dan sekarang kebodohan itu diangkat lagi oleh manusia plastik kendati dalam formula yang sedikit berbeda. Bagi Plato tubuh harus disiksa agar manusia memperoleh bonum. Namun penyiksaan itu sendiri adalah sebuah malum yang dikecam habis-habisan. Kendati manusia plastik kelihatan tengah merias tubuh dengan ber-bedah sebenarnya pada saat yang sama mereka sedang menyiksa tubuh yang asli untuk bonum (kecantikan). Manusia plastik ‘membuang’ wajah, hidung, telinga, kulit, payudara yang lama; yang jelek demi sesuatu yang baru (bonum). Kedua; dengan berpihak pada bedah plastik untuk tujuan kecantikan menggiring manusia plastik pada praktik idolatria terhadap daging yang fana. Bukankah ini juga sebuah malum? Manusia tidak suka dengan dirinya karena yang lain dan ia lari kepada yang lain untuk menjadi yang lain itu dan melupakan dirinya yang sebenarnya. Ini bukanlah sebuah bonum yang mesti dirayakan. Yang mesti dirayakan adalah pluralitas dan pengakuan akan keunikan tubuh. Menjadi manusia yang berbangga dengan personanya sendiri adalah sebuah bonum. Persona adalah diri kita yang sekarang ini dan yang akan kamu temukan lebih dalam lagi setelah engkau mengakrabinya dengan lebih tekun dan sungguh.[10] Itulah kecantikan yang mesti manusia pahami.

 

 Berarak pada Sejarah Rasisme

Masih segar dalam ingatan generasi manusia saat ini diskriminasi ras yang dilancarkan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam atau pun diskriminasi sosial antara borjuis dan proletariat dan sejumlah bentuk diskriminasi lain. Semua bentuk diskriminasi tersebut merupakan perwujudan dari radikalitas egoisme diri. Orang berpandangan bahwa hanya diri sendiri atau kelompoknya yang sempurna. Dan maunya diri sendiri saja yang senantiasa sempurna. Orang atau kelompok mesti disingkirkan.

Berbicara tentang manusia plastik berarti berbicara tentang tipe manusia yang ingin sempurna. Bahkan saking ingin sangat sempurna orang lain tidak dibiarkan melebihi kesempurnaan yang dimilikinya. Ambisi seperti ini akan mengarahkan manusia plastik ke pintu gerbang diskriminasi. Sekurang-kurang ada dua jenis diskriminasi yang terjadi. Pertama; diskriminasi terhadap diri yang asli. Kedua; diskriminasi terhadap sesama yang jelek/tidak sempurna atau terhadap mereka yang terlihat lebih sempurna darinya. Dalam pergaulan manusia plastik hanya akan berselera dengan pribadi-pribadi yang sempurna seturut kaca matanya. Mereka yang tidak berada dalam kategori tersebut terdaftar sebagai kelompok kelas ‘muka jelek’. Hal ini memang masih menjadi mimpi yang mencemaskan. Namun bukan berarti hal ini tidak mungkin terjadi jika kita menafsirkan mimpi ini dengan sejarah diksriminasi ras tadi.

Dalam apartheid, diskriminasi rasial yang terjadi adalah orang putih memojokkan orang hitam. Bahkan sistem politik pun berpihak pada ras putih. Apartheid mungkin terjadi karena kuasa dan penguasa yang mengatur sistem sistem apartheia itu. Dahulu hampir semua sektor penting dalam kehidupan dikuasai oleh orang putih. Mereka pandai mengatur dan dilimpahi fajar budi. Stigma budak dan segala jenis stigma jelek lain adalah milik orang hitam. Mereka adalah raja dari orang-orang hitam. Penguasa politis sudah melegitimasi label tersebut. Orang hitam tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup mereka sulit dan menderita. Mereka tidak sulit keluar dari sistem ini. Politik aparthied sangat mengekang bahkan sehingga seekor semut dari rumah orang hitam pun tidak akan cukup mampu keluar dari diskriminasi yang sedang melanda.

Demikian nantinya nasib dunia ini jika ras manusia plastik bertumbuh subur dan dilegitimasi dengan undang-undang. Populasi mereka akan bertambah dan menghasilkan kekuasaan dan kekuatan yang besar. Kiblat legitimasi mereka adalah ‘menyembah’ bedah plastik. Bedah plastik sulit diredam dan bukan tidak mungkin tidak bisa dihentikan. Mengapa? Karena para penguasa; yang ber-uang dan yang berkuasa seperti para penguasa yang mensistemkan apartheid adalah para konsumen yang loyal. Sebagai kelompok yang terdiskriminasi salah satu jalan bisa dibuat adalah pemberontakan. Bisa dengan jalur damai, bisa juga anarkis jika yang damai tidak memungkinkan lagi. Lalu manusia akan saling membantai.  Kalau demikian jadinya, pagelaran show kecantikan yang sedang terjadi ini akan berujung pada tragedi penuh haru yang lebih sadis dari Auswitz dan lebih perih dari Lubang Buaya. Maka ada baiknya kita cegah kemungkinan dari pada membiarkannya dan akhirnya terjadi. Manusia plastik jangan sampai melupakan sejarah, diri dan segalanya yang pernah membawa bencana pada alam semesta ini.


Berujung pada Protes dan Curiga terhadap ‘Penjadi’ Tubuh

Semuanya ini akhirnya tidak hanya berhenti pada persoalan tataran politis, sosial atau pun ekonomis. Kehadiran manusia plastik turut menggetarkan segi teologis. Tubuh manusia juga menjadi pusat kajian teologis. Tubuh memiliki kaitan dengan Tuhan; sosok Pencipta yang diakui agama-agama sebagai penjamin dan pengada segala sesuatu di dunia ini. Sekurang-kurangnya dalam teologi kristen diketahui bahwa manusia dengan segala keberadaan merupakan simbolisasi diri Allah di tengah dunia.  Manusia adalah imago Dei.[11]

Rupa manusia adalah gambaran Allah. Sikap manusia yang sejalan dengan pernyataan ini ialah mensyukuri keadaan tersebut. Dan segala sesuatu yang telah Allah berikan termasuk seluruh keberbedaan manusia baik adanya. Dalam keterlahirannya tubuh manusia yang terbentuk itu mengandung makna terdalam karena di situlah Allah memberikan diri-Nya pada tubuh manusia yang dijadikan. Manusia mesti memahami pemberian diri Allah ini dengan tidak melakukan renovasi sekecil apa pun terhadap tubuh. Dengan renovasi manusia telah membuang pemberian Allah.[12] Yang mesti manusia pilih dalam posisi ini ialah senantiasa menerima dirinya sebagai pemberian Allah.[13]

Akan tetapi semua yang digariskan tadi berubah jika pilihan bedah plastik menjadi keputusan manusia saat melihat tubuhnya. Berubah karena ia tidak melihat simbolisasi diri Allah dalam tubuhnya. Itu berarti ia menolak Allah sebagai pencipta yang baik termasuk tubuhnya. Berubah karena tubuh yang menjadi sarana kepada Allah kini menjadi sarana menuju dosa. Manusia berdosa karena mencurigai Allah. Kecurigaan bahwa Allah salah menciptakan tubuhnya. Berdosa karena menghujat Allah dengan credo kecurigaan tadi lalu menyembah bedah plastik dari pada percaya kepada-Nya.[14] Allah ditinggal dan manusia semakin yakin bahwa melarikan diri Allah adalah kebaikan tertinggi.

           

PENUTUP

Untuk mengakhiri tulisan ini saya paparkan beberapa catatan kecil. Pertama; dengan melihat dampak bedah plastik ini bagi kehidupan maka dunia kedokteran mesti memiliki kewajiban untuk menempatkan kembali kewibahan bedah plastik. Dunia kedokteran perlu melihat kembali sejarah awal lahirnya pembedahan plastik. Semoga tujuan mulia yang mula-mula diusung tidak dikorbankan demi keuntungan pribadi-pribadi tertentu; demi kepentingan bisnis dan ekonomis semata. Kedua; manusia plastik adalah mereka yang mempunyai kecenderungan untuk apatis terhadap pluralitas. Bahkan mereka memiliki kecenderungan menolak perbedaan dan keunikan. Iming-iming mereka saya harus lebih cantik, lebih  mempesona, lebih sempurna dan hanya saya yang mesti lebih. Mereka juga mau dunia mengakui bahwa kecantikan dengan bedah plastik adalah trend globalisasi. Bisa jadi iming-iming ini mensemaikan benih uniformitas dan konflik.[15] Ketiga; kita tidak bisa memungkiri legitimnya dikotomi bonum (cantik) dan malum (jelek). Akan tetapi kehadiran bedah plastik seharusnya menyadarkan orang keadaan asali dari tubuh kita masing-masing. Tidak ada tubuh yang jelek. Semua tubuh baik adanya. Kehadiran bedah plastik yang memberi ruang bagi diskriminasi terhadap tubuh yang jelek dan melegitimasi persepsi manusia bahwa ada tubuh jelek yang diberi Tuhan mesti kita waspadai.

Akhirnya semuanya ini perlu kita pertimbangkan dengan arif. Jika kita masih ingin dunia kita dihidupi oleh manusia yang merayakan perbedaan dan merayakan keunikannya maka kritisilah praktik bedah plastik yang akhir-akhir ini sedang marak. Semoga nurani kita masih cukup berani berkata tentang malum-nya sebuah bedah plastik dan usahakan semoga naruni kita pun tidak di-plastik-kan.

                                                                     

 

 

Selcilius Riwu Nuga



       [1] http://sofifisofiani.wordpress.com/all-about-korea/fakta-fakta-korea-selatan/, diakses tanggal 8 Januari 2012. Bdk. Rujak Kampus, Marak Operasi Pelastik di Korea (On Line) (http://rujakkampus.wordpress.com/2011/11/17/marak-operasi-pelastik-di-korea/), diakses tanggal 8 Januari 2012. Bdk. AnneAhira.com, Artis Korea Yang Operasi Plastik (On Line) (http://www.anneahira.com/artis-korea-yang-operasi-plastik.htm), diakses tanggal 8 Januari 2012.

       [2] Ahli Bedah Plastik.com, Budaya Indonesia dan Operasi Plastik (On Line) (http://ahlibedahplastik.com/operasi-plastik/budaya-indonesia-dan-operasi-plastik/), diakses tanggal 8 Januari 2012.

       [3] Wikipedia Free Encyclopedi, Plastic Surgery (On line) (http://en.wikipedia.org/wiki/Plastic_surgery, diakses tanggal 18 Desember 2011).

       [4] http://ptsii.blogspot.com/2011/04/melinda-sebelum-operasi-plastik-dan.html, diakses tanggal 8 Januari 2012.

       [5] Wikipedia Free Encyclopedi, Op.Cit.

       [6] http://merawatdansehat.blogspot.com/2011/03/operasi-plastik.html, diakses tanggal 8 Januari 2012.

       [7] Wikipedia. Op.Cit.

       [8] Ibid.

       [9] Egie Gusman, Ayu Dewi Ingin Operasi Plastik Kayak Luna Maya (On Line) (http://celebrity.okezone.com/read/2011/11/23/33/533299/ayu-dewi-ingin-operasi-plastik-kayak-luna-maya), diakses tanggal 8 Januari 2012.

       [10] Bdk. B Hari Juliawan, “Tubuh Hedonis, Tubuh Teologis” dalam ROHANI, 50, 4, April, 2003.

       [11] Deshi Ramadhani,  Lihatlah Tubuhku (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm. 22.

       [12] Ibid., hlm. 66.

       [13] Ibid., hlm. 77.

       [14] Bdk. Georg Kirchberger, Allah Menggugat (Maumere: Ledalero, 2007), hlm. 301.

       [15] Bdk. Otto Gusti Madung, Politik Antara Legalitas dan Moralitas (Maumere:Ledalero, 2009), hlm. 51. 

Komentar