BERAKAR PADA SABDA ALLAH MENGHIDUPKAN KESETIAAN MENGIKUTI YESUS
Lukas 16:10-13
"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia
juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam
perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi,
jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan
mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia
dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?
Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia
akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada
yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada
Allah dan kepada Mamon."
Konstitusi
33
Kesetiaan
pada Yesus yang tersalib merupakan syarat mutlak mengikat hidup seorang rasul,
kesetiaan itu harus bertumbuh, berkembang dan berakar dalam kesetiaan Yesus
sendiri. Sebagai pengikut Kristus pewaris kelompok para rasul, kita pun patut
setia di jalan salibNya dan kalau diperkenankan Tuhan, ikut pula memikul salib
sampai di Golgota (bdk. Luk 23:26-27; Yoh 19:25-27). Ikut menderita, mencintai
dan menghormati sengsara Tuhan, seperti yang dihidupi oleh Pendiri kita yang senantiasa
menyalami salib dalam hidupnya sebagai satu-satunya harapan merupakan panggilan
khas kita. Cara hidup yang demikian itu membantu kita untuk tekun dalam
mengatasi berbagai kesulitan dan tantangan karena panggilan kita mengandaikan
hidup di tengah kesulitan tanpa kehilangan harapan. Kesaksian hidup yang
demikian itu meneguhkan pewartaan kita.
Kita sedang mendalami sebuah tema
permenungan yang memberi dasar pada hidup religius kita yakni Kesetiaan kepada
Sabda Allah. Dialah yang menjamin keberadaan kita. Hanya Sabda yang membuat
kita menjadi berarti dan memiliki arti. Sabda Allah yang memberikan kemampuan spiritual
untuk terus bermisi. Selain itu, Sabda Allah merupakan sumber inspirasi bagi segala
rencana dan program hidup serikat. Akan tetapi, kita semua mesti menyadari
bahwa Sabda Allah yang telah menjadi manusia ini mengajak kita semua untuk
mencintai salib-Nya. Tentang perihal ini kita semua dihadapkan pada pertanyaan
reflektif berikut ini.
Apa
yang ditawarkan oleh salib Kristus kepada hidup kita?
Yang
kita tahu adalah bahwa di dalam salib terlihat semua kisah keselamatan umat
manusia; misi Allah yang menyelamatkan dunia. Di salib terdapat tetesan air
mata putri-putri Yerusalem yang diperlakukan tidak adil oleh sistem budaya
laki-laki. Mereka adalah wajah perempuan zaman ini yang diperbudak oleh
segelintir orang, yang menderita karena budaya dan kekerasan kaum pria. Di Salib
Yesus berlumuran darah orang-orang tak bersalah, yang menjadi korban
keserakahan dan nafsu jahat segelintir orang. Dari salib, keringat orang-orang
sederhana yang selalu setia membantu karya misi kita, terlihat. Dari salib kita
merefleksikan seluruh hidup umat manusia dalam serikat ini, membaca ulang opsi
kita untuk orang-orang miskin dan yang tersingkirkan di dalam masyarakat.
Oleh karena itu, Sabda Allah yang kita
baca dalam Kitab Suci adalah realitas salib yang ada di tengah masyarakat. Ia menjelma
menjadi daging dan tinggal di antara kita. Yang kita butuhkan sekarang hanyalah
kepekaan untuk mendengar jeritan mereka yang susah, merasakan sakit mereka yang
tersingkirkan dan melihat jalan keluar untuk mengatasi semua ketimpangan yang
terjadi di dalam masyarakat. Saya mengatakan SEMUA KETIMPANGAN, tidak berarti
saya sedang berpikir yang muluk-muluk tetapi saya melihat sebuah kekacauan
besar yang sedang melanda seluruh aspek hidup bermasyarakat. Ketimpangan di
suatu aspek memberikan pengaruh negatif bagi aspek yang lain. Jika semua aspek
mendapatkan pengaruh negatif maka ketimpangan itu akan menjadi sulit diatasi.
Mengapa ketimpangan itu terjadi? Karena
kita tidak lagi setia melihat pada salib Kristus. Di dalam hidup membiara
ketimpangan itu bisa terlihat dari ketidakkesetiaan untuk secara bersama
sebagai satu komunitas memuji dan memuliakan Tuhan dalam doa dan ekaristi,
memulai dan mengakhiri seluruh aktivitas misi dengan doa. Ketimpangan itu
terlihat ketika Kitab Suci tidak menjadi teman yang mesra di meja belajar kita.
Dia hanya sekedar sebuah buku tua yang menghiasi rak buku di kamar. Ketimpangan
itu telihat dari iri hati terhadap sesamaku yang berprestasi karena
ketekunannya. Ketimpangan itu terlihat dari ketidakberanian saya untuk
menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang
buruk. Semuanya ini adalah perkara-perkara kecil yang Yesus maksudkan dalam
injil Lukas yang sedang kita refleksikan. Berbahagialah dalam kesetiaan dalam
melakukan hal-hal kecil karena semuanya itu membantu kita untuk menjadi lebih
setia pada kaul-kaul kebiaraan yang telah kita sumpahkan kepada komunitas dan
kepada Tuhan sendiri. Tuhan senantiasa memberkati kita semua.
Trairão, 1 September 2020
Komentar
Posting Komentar