PIERRE CLAVERIE: GEMBALA DARI DUA KANDANG
“Tempat
yang tepat bagi kehidupan orang-orang Kristen
bukanlah dalam keheningan
biara,
melainkan justru di kubu pertahanan seteru.
Seandainya ada biara
semacam itu maka ia bukan mengasingkan diri
melainkan untuk menjalin
suatu relasi dengan Yesus.”
(Pierre Claverie)
Prolog
Ungkapan yang melimpah konsistensi dan
kaya refleksi ini keluar dari mulutnya karena ia sadar bahwa imannya akan
Kristus mesti berakar pada cinta yang tulus dan harus bereksistensi dalam
realitas. Mencintai mereka yang beriman lain bukan dosa. Mengajak mereka untuk
memahami apa itu cinta bukan heresi. Karena itu, mati bagi mereka adalah rahmat
berlimpah bagi dirinya. Demikian kesan sederhana yang bisa dialamatkan pada Uskup
Aljazair ini.
Pierre
Claverie lahir di Aljir pada tahun 1938. Besar dalam asuhan orang tua yang
beriman Kristen. Kemudian tertarik menjadi gembala dan pelayan Allah dalam ordo
Dominikan. Akhirnya menjadi Uskup di Aljazair yang kemudian dalam kesempatan
yang sama menjadi Gembala dari Dua Kandang (Kristen dan Islam). Menarik untuk
mengatakan Gembala dari Dua Kandang karena Claverie sanggup mendamaikan kedua
agama besar ini dan membawa mereka untuk memahami cinta yang sebenarnya. Ia
menjadi pengajar cinta kepada yang Muslim sungguh sebagai seorang kyai dalam
dunia Islam. Begitu pula kepada yang Kristen dalam kapasitasnya sebagai uskup
mereka. Yang kristen, yang kala itu lebih sebagai ‘tamu’ perlu menyadari
perannya. Kristen harus sadar bahwa misinya kini berada di ‘garis-garis
patahan’. Garis ini sedianya butuh diluruskan bukan sebaliknya dipatahkan lagi
sampai berkeping-keping. Dan justru kristen di Aljazair menginginkan patahan
itu terjadi. Kristen di Aljazair tidak menunjukkan diri sebagai tamu yang baik.
Mereka lupa diri dengan tidak bisa menghargai tuan rumahnya. Apakah ada alasan
yang paling berarti dari semua ini selain kepongahan? Ya, kristen Aljazair masih
menjadi tamu yang pongah.
“Sesama”: Awal yang Indah
Apa mau dikata bahwa kata yang amat
familiar ini pernah hilang maknanya dari kehidupan Claverie, terkhusus di masa-masa
kecilnya. Bayangkan saja, baru pada usianya yang ke-20 (saat ia menjadi novis
di Biara Le Saulchoir pada tahun 1958) sampai wafatnya kata ini mendapatkan
pemaknaan secara tepat. Dia sendiri terkejut setelah membayangkan kenyataan
ini. Mengapa? Isolasi sosial yang dibangun gereja dalam kaitannya dengan relasi
dengan pihak Islam melahirkan persepsi bahwa sesama adalah orang-orang Kristen
saja. Mereka yang muslim dengan sendiri adalah lawan. Kata ini menjadi vonis
mati bagi siapa saja yang salah menggunakannya. Itulah sebabnya mengapa
Claverie harus membayar ‘mahal’ ketika kata ini berani ia ajukan kepada mereka
yang muslim.
Pada waktu pantabhisannya sebagai
Uskup di Oktober 1981 itu, ia pernah berkata demikian: “Para saudara
(Kristen) dan sabahatku (Muslim) orang-orang
Aljazair, saya juga berutang budi pada kalian semua atas apa yang terjadi pada
diriku hari ini. Kalian juga telah menyambut dan mendukungku dengan persahabatanmu. Terima kasih kepadamu,
saya telah menemukan Aljazair di mana, walau pun adalah tanah airku, saya hidup
sebagai seorang asing selama masa mudaku. Bersamamu, ketika mempelajari bahasa
Arab, terutama nian saya telah
belajar untuk berbicara dan memahami bahasa hati, bahasa persahabatan dan persaudaraan, di mana
berbagai ras dan agama hidup bersama satu sama lain. Dan lagi, saya memiliki
kelembutan hati untuk percaya bahwa persahabatan
ini akan bertahan dan menang melawan waktu, jarak dan pemisahan. Sebab saya
percaya bahwa persahabatan ini
berasal dari Allah dan mengantar kepada Allah.” Penggunaan kata sahabat yang
berulang-ulang itu menunjukkan perhatiannya sangat besar bagi Islam sekaligus
menghapus stereotipe kristen terhadap Islam. Orang Kristen dengan ini sejatinya
harus mulai memahami apa itu sesama yang sama artinya dengan kata sahabat dan
bukannya lawan seperti yang selama ini mendarah daging. Konsekuensi dari
pergeseran ini memberikan keberanian pada dirinya untuk menganjurkan sebuah
metode misi baru yang harus diemban gereja universal, secara khusus di
Aljazair. Gereja boleh memaklumatkan sekian banyak ketetapan (Dignitatis Humanus atau Nostra Aetate), tetapi keindahan
ketetapan itu membutuhkan implementasinya. Misi tidak hadir dalam
rumusan-rumusan itu. Misi adalah dialog dan dialog adalah ‘bertemu muka dengan
muka.’ Dan untuk memulai dialog pertanyaan untuk diri sendiri menjadi desakan
utama. Apakah kristen berani bertanya tentang dirinya? Berani mengakui
kepongahannya? Kristen dengan rumusan-rumusannya menjadi pongah. Menciptakan
satu kriteria untuk berdialog tanpa tahu apakah demikian pula kriteria yang
dibutuhkan pihak lain. Kita membutuhkan keterbukaan dan mendengarkan.
Berhentilah beranggapan sebagai satu kekuatan yang selalu pencetus segala
sesuatu. Belajarlah bermurah hati seperti Kristus sendiri. kita harus lebih
banyak mendengarkan, tetapi bagaimana kita bisa mendengarkan jika kita dipenuhi
dengan diri kita sendiri, dengan kekayaan dan material atau intelektual kita???
Claverie menasihati kita dengan pertanyaan ini. Lalu mampukah kita menjadi
pelucut diri sendiri dan menemukan arti sahabat bagi kita?
Kata Akhir
Darah Claverie bercumbu dengan
Mohamed (sahabatnya) ketika mereka ditemukan sudah tak bernyawa lagi di depan singgasana
Allah sendiri. Tuhan sendiri yang melihat matinya mereka berbahagia karena
pelayannya berani mati seperti Kristus. Karena itu, kematian ini dimeteraikan
dengan kematian Kristus di Salib agar turut menjadi tanda bagi keselamatan
banyak orang di seluruh dunia terkhusus bagi umat Kristen yang tidak pernah
sadar dan selalu mengharapkan kematian Kristus seperti ini senantiasa terjadi.
ellynuga
Komentar
Posting Komentar