MENDEKONSTRUKSI PROBLEMATIKA INJIL YUDAS

 


Dalam kristianisme Yesus Kristus dikenal sebagai tokoh penting dan utama. Bahkan kristianisme meyakini Yesus Kristus sebagai Putera Allah yang membebaskan manusia dari kuasa dosa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dia dibunuh dan disalibkan oleh pemerintah Romawi atas kehendak tokoh-tokoh masyarakat/agama dan sebagian masyarakat Palestina waktu itu. Selama hidup-Nya Yesus Kristus berkarya dan mengajarkan falsafah hidup di tengah masyarakat Palestina. Dia menyembuhkan banyak orang sakit, membangkitkan banyak orang mati walau akhirnya wafat di kayu salib dan bangkit dengan tubuh dan jiwa pada hari yang ketiga. Pengajaran-pengajaran-Nya menarik dan menggugah hati sehingga banyak orang tertarik dan menjadi pengikut-Nya. Lalu dari semua pengikut Yesus kelompok kedua belasan yang disebut juga rasul-rasul Yesus menjadi kelompok yang terkenal sampai dengan saat ini. Salah seorang rasul; Yudas Iskariot disebutkan sebagai ‘kaki tangan’ tokoh-tokoh agama yang berencana membunuh Yesus. Yudas ‘menjual’ Yesus kepada mereka lalu Yesus dihukum dan disalibkan sampai mati.

Keyakinan dan gambaran kristianisme tentang Yesus Kristus dan seluruh kisah lain yang berhubungan dengan Kristus dan para rasul ini diwariskan turun-temurun kepada umat Kristen melalui Kitab Suci dan ajaran-ajaran doktrinal Gereja Katolik. Akan tetapi apakah hanya yang tertulis dan yang terajarkan ini saja yang dipercayai oleh berbagai kalangan; termasuk kelompok Kristen sendiri sebagai referensi iman kristiani yang diwariskan? Atau mungkin ada rujukan atau sumber tertulis lain yang bisa Gereja pakai dan yakini sebagai landasan terpercaya untuk merumuskan doktrin-doktrin Gereja tentang Allah Tritunggal (Bapa, Yesus Kristus, Roh Kudus) sebagai pusat iman kristiani?

Pada bulan Mei tahun 2006 yang silam dunia kekristenan dikagetkan oleh kehadiran sebuah buku tua, mahakarya sekelompok orang dari abad ke-2 Masehi. Buku tersebut hadir untuk menjawabi pertanyaan sebelumnya dan disinyalir sebagai salah satu sumber tertulis lain yang bisa Gereja yakini sebagai landasan baru perumusan doktrin-doktrin imannya. Namun apakah Gereja mesti menerima sinyal tersebut?

Injil Yudas ditemukan di Jebel Qarara, Al Minya Mesir Tengah pada tahun 1978. Naskah ini ditulis dalam bahasa Koptik dengan dialek Sahidik, sebuah bahasa Mesir kuno yang masih dipergunakan pada masa pemerintahan Firaun. Seturut penelitian para ahli dikatakan bahwa naskah itu adalah salinan dari naskah asli injil Yudas berbahasa Yunani yang dalam perjalanan waktu bermigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu tangan ke tangan yang lain. Orang terakhir yang berandil besar dalam penerbitan naskah ini adalah Frieda Tchacos Nussberger. Waktu ditemukan oleh para petani di daerah tersebut, naskah injil Yudas terkumpul bersama beberapa naskah lain seperti Surat Petrus kepada Filipus, Surat Jakobus dan Surat Allogenes. Keempat naskah ini terangkum dalam kodeks yang disebut Kodeks Tchacos.

Injil Yudas bukan merupakan injil yang baru. Keberadaan injil Yudas sudah terdengar di tahun 180 M sejak Ireneus dari Lyon menyebut injil ini dalam tulisannya yang berjudul Adversus Haeresis (Melawan Para Biadaah) dan disebut sebagai salah satu tulisan gnostik dari kelompok Kainit. Injil Yudas berisi ajaran rahasia dari Yesus Kristus kepada Yudas Iskariot sebelum Yesus diserahkan ke tangan orang-orang Yahudi untuk diadili dan disalibkan. Beberapa ajaran tersebut antara lain seperti penciptaan, kosmologi, dualisme: alam semesta, kekacauan, dan hukum kekal dan ramalan tentang masa depan Yudas Iskariot yang ditentukan untuk menjadi salah anggota generasi agung di alam Barbelo.  

Injil Yudas disebut sebagai tulisan yang tidak otentik berbicara tentang kehidupan Yesus dan para murid-Nya karena seluruh kisah yang disebutkan di dalamnya tidak sejalan dengan kisah sebenarnya yang dikisahkan oleh Kitab Suci. Injil Yudas mengklaim tindakan Yudas yang menyerahkan Yesus untuk disalibkan sebagai tindakan kepahlawanan. Yudas disebut pahlawan karena melalui kematian itu jiwa ilahi Yesus dibebaskan dan kembali menjadi diri ilahi yang agung. Seolah-olah tindakan Yudas merupakan sebuah persepakatan yang telah dibuat antara Allah dan Yudas. Karena alasan seperti inilah maka injil Yudas tidak pernah diakui sebagai salah satu tulisan kanonis dalam Gereja. Gereja menolak injil Yudas dikarenakan oleh banyak alasan. Akan tetapi pada umumnya penolakan Gereja terhadap setiap tulisan yang berbicara tentang Yesus didasarkan pada alasan-alasan seperti: apakah tulisan-tulisan tersebut sungguh-sungguh meneruskan tradisi rasuli yang mengimani misteri kebangkitan Kristus? Juga alasan seperti umur tulisan tersebut apakah sungguh dekat dengan peristiwa Yesus? Atau apakah tulisan-tulisan tersebut dipakai dan diterima oleh jemaat? Kegagalan kanonisasi injil Yudas nampak dalam hal-hal tadi.

Karena mendapat pengaruh yang amat besar dari mahzab gnostik maka isi injil Yudas sebenarnya adalah ajaran-ajaran gnostik seperti dualisme materi dan rohani, tubuh dan jiwa. Tubuh dilihat sebagai penjara jiwa. Jiwa adalah substansi ilahi yang sifatnya baik sedangkan tubuh merupakan simbol kejahatan. Maka Allah yang menciptakan dunia bukanlah Allah yang baik yang dikenal dalam iman kristen.  Jiwa yang terpenjara dalam tubuh, merindukan Allah. Kerinduan ini akan sampai jika manusia memperoleh gnosis/wahyu. Gnosis memungkinkan jiwa dibebaskan dari tubuh. Gnostisisme percaya bahwa Yesus adalah salah satu substansi ilahi yang membutuhkan pembebasan dari penjara tubuh. Oleh karena itu, tubuh Kristus mesti dibunuh agar jiwanya mendapat kebebasan.

Selain inti ajaran ini yang disampaikan, injil Yudas juga menyampaikan beberapa peristiwa problematis yang tidak pernah ditemukan dalam Kitab Suci. Dikatakan bahwa Yesus yang selalu mengajar para murid-Nya dalam kuasa dan kewibawaannya sebagai Guru yang baik sering menertawakan para murid-Nya. Ada beragam alasan di balik tindakan Yesus itu. Ada yang tertawa karena para murid berdoa kepada allah lain bukan kepada Tuhan yang diyakini yaitu Allah Bapa di Surga, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Di dalam Kitab Suci dikatakan bahwa Yesus senantiasa berdoa kepada Bapa di Surga. Teladan hidup ini yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya. Dia memperkenalkan Allah yang benar kepada mereka. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Allah yang harus disembah adalah Barbelo. Sebagai pemberi teladan Yesus tidak patut menertawakan para murid apalagi dalam hal doa. Kitab Suci menegaskan bahwa setiap tindakan doa yang Yesus ajaran dan Yesus tunjukkan kepada para murid selalu diarahkan kepada Allah di surga. Karena itu tidak benar jika sepanjang kebersamaan Yesus dengan para murid-Nya didapati bahwa para murid berdoa kepada allah lain dan Yesus menertawakan mereka.

Selain itu dikisahkan pula tindakan Yesus yang sering meninggalkan para murid-Nya sendirian. Injil Yudas terlalu sering menampilkan adegan-adegan yang menampilkan tindakan Yesus ini. Padahal dalam Kitab Suci tindakan seperti ini sulit Yesus lakukan. Kitab Suci selalu mengisahkan kebersamaan Yesus dengan para murid-Nya sebagai bukti bahwa Allah sungguh dekat dengan umat tebusan-Nya, sebagai bukti bahwa Allah yang Imanuel itu selalu menyertai umat gembalaan-Nya. Yesus adalah Sang Gembala sejati yang selalu dekat dengan kawanan domba gembalaan-Nya.

Hal problematis lain yang disampaikan injil Yudas ialah soal kemanusiaan dan Ke-Allah-an Yesus Kristus. Gnostisisme mengatakan kemanusiaan Yesus bersifat docetis yang berarti bahwa kemanusiaan Kristus hanya sandiwara dan kepura-puraan belaka. Bagi gnostisisme, kodrat Yesus hanya kodrat ilahi yakni ke-Allah-an (monofisit) dan bukan ke-manusia-an. Dengan demikian gnostisisme menimbulkan pertentangan dengan ajaran iman kristiani tentang kodrat Yesus. Kitab Suci dan injil Yohanes pada khususnya mengafirmasi kodrat Kristus sebagai Allah dan manusia. Itu bisa ditemukan dalam prolog injil Yohanes. Dalam prolog ini, Yohanes menggariskan ajaran tentang inkarnasi Allah yang tak terbantahkan. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”  (Yoh 1:1-2;14).

Firman (Kristus) yang sehakikat dengan Bapa (Allah) melegitimasi ke-Allah-an Kristus serentak ke-manusia-an Yesus. “Firman bersama Allah dan Firman adalah Allah berbicara mengenai misteri ilahi karena menampilkan identitas Allah dan Firman-Nya (theos en ho theos) serta ciri kepribadian-Nya – Firman adalah bersama (pros) Allah.  Dan kesatuan antara yang ilahi dan insani dalam diri Kristus tidak pernah terpisahkan juga oleh alasan kesatuan tersebut. “Kekhasan masing-masing kodrat (ilahi dan insani) dipertahankan dan bertemu dalam satu pribadi dan satu hypostatis (yang berdikari).”

Setelah berusaha mempertentangkan kemanusiaan dan keilahian Yesus, penulis injil Yudas juga memaparkan tujuan penulisan naskah ini yaitu pemaparan tentang kisah kepahlawanan Yudas. Yesus memuji Yudas karena tindakannya yang menyerahkan Dia untuk disalibkan. Yesus berkata: “Tetapi engkau akan lebih besar dari mereka semua; karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku.” Perkataan Yesus ini menjadi proklamasi teramat agung bagi kaum gnostik untuk mengatakan bahwa tujuan mereka telah terjadi. Raga Yesus mesti mati sehingga keilahiannya dapat hidup dengan bebas. Akan tetapi Kitab Suci tidak mengatakan bahwa tindakan Yudas itu direstui Yesus. Dan Kitab Suci pun tidak pernah menyebutkan bahwa kisah ini adalah cara Allah membebaskan Kristus dari tubuh yang memenjarakan keilahian Yesus.

Selain mereduksi inti ajaran Kristen tentang persona Yesus ini, kaum gnostik juga mereduksi Kristus sebagai malaikat. Kristus adalah Set; salah satu malaikat yang menguasai dunia bawah. Hal ini bertentang dengan inti ajaran Gereja tentang Yesus dan para malaikat. Yesus bukan malaikat. Yesus adalah Putra Allah Bapa yang menjadi pusat dunia malaikat.

Injil Yudas berusaha menggantikan ajaran-ajaran Kristen tentang Kristus dan para muird-Nya. Akan tetapi usaha ini gagal karena semua hal yang disampaikannya tidak benar secara historis dan teologis. Karena itu sikap umat Kristen yang baik dalam menanggapi kehadiran tulisan seperti ini ialah tetap berusaha kembali pada ajaran ortodoks gereja. Keyakinan akan ajaran-ajaran yang diwariskan itu akan membawa pencerahan dan membebaskan umat Kristen dari penyesatan.

 

Nita Pleat, 2 Juni 2012

Oleh: Selcilius Riwu Nuga



Komentar